Hukrim

Minggu, 3 Mei 2020 - 18:24 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ibu Ismawati bersama iparnya saat di ruangan Subdit Tiga Jatanras Polda Sulbar.

Ibu Ismawati bersama iparnya saat di ruangan Subdit Tiga Jatanras Polda Sulbar.

Tak Sudi Suaminya Ditahan, Ibu Rumah Tangga ini Mengadu ke Polda Sulbar

” Hanya gara – gara suami saya membela saya, karena saya dipukul orang kok malah suami saya yang jadi tersangka dan ditahan, ada apa?. Saya ini korban penganiayaan, kenapa yang mukul saya tidak ditahan, ini ada apa sebenarnya, dimana keadilan?. Kalau memang salah, ya harus ditahan semua, ” kesal Ismawati.

SULBAR, pojokcelebes.com | Seorang ibu rumah tangga yang diketahaui bernama Ismawati asal Desa Doda Kecamatan Sarudu Kabupaten Pasangkayu, harus rela menempuh perjalanan Ratusan kilo meter dari Kecamatan Sarudu tujuan ke Polda Sulawesi Barat ( Sulbar ) Povinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ), hanya untuk mencari keadailan dalam penanganan perkara suaminya Andika Bin Juma yang kini jadi tersangka di Polsek Pasangkayu, yang dinilai janggal.

Ditemui diruangan Kasubdit Tiga Jatanras Polda Sulbar, Ismawati yang ditemani iparnya atas nama Dahlan. Mengaku, salahsatu alasan memberanikan dirinya ke Polada Sulbar, tidak lain hanya ingin mencari keadilan atas penanganan perkara yang dialami suamianya yang saat ini ditahan oleh Polsek Pasangakyu.

” saya bersama iparku kasian naik motor dari Sarudu, saya datang ke Polda ini hanya ingin mempertanyakan penanganan kasus suami saya yang ditahan di Polsek Pasangkayu, yang menurut saya tidak adil, ” kata Ismawati.

Menurut Ismawati, penahanan suaminya terkesan dipaksakan oleh Polsek Pasangkayu. Dia pun menceritakan persoalan yang dialami sebelum jadi tersangka. Awalnya, bersama suaminya melintas di wilayah perusahaan PT. Letawa Kecamatan Tikke Raya dengan mengendarai mobil rental dengan tujuan ke rumah tantenya. Ismawati mengaku, dirinya bertiga dalam mobil saat itu dibuntuti kawanan pria yang diduga adalah karyawan perusahaan Letawa. Lanjut dia ungkapkan, karena suaminya ingin tau siapa yang membuntutinya akhirnya mobil yang sementara dikemudikan suaminya tiba – tiba berhenti.

” Saat suami saya turun dari mobil, yang mengikuti kami rupanya mereka curiga terhadap kami, mereka kira kami pencuri buah sawit. Saat mobil kami digeledah tidak juga menemukan bukti buah sawit. Pada hal, saya malam itu saya mau ke rumah tante. Yang bikin saya tidak terima, tiba – tiba ada orang yang pukul dibagian belakang pundak hingga nyeri. Disitulah suami saya marah dengan spontan ambil parang dalam mobil, tapi suami saya tidak mengancam hanya saja berteriak ingin membela saya karena kenapa saya dipukul, “kata Ismawati yang mengaku saat dipukul ada saksi yang melihatnya dalam mobil.

Soal peristiwa itu, karena suaminya menjadi tersangka dengan alasan Polisi memiliki senjata tajam ( Sajam ) dan pengancaman. Tetapi seharusnya kata dia, polisi juga melihat bahwa dirinya nyata – nyata korban penganiayaan malam itu, tetapi pelakunya sampai saat ini tidak ditahan oleh Polisi padahal sudah dilaporkan.

” hanya gara – gara suami saya membela saya, karena saya dipukul kok malah dia yang jadi tersangka dan ditahan, ada apa? Saya ini menjadi korban penganiayaan tersangkanya tidak ditahan, ini ada apa sebenarnya, dimana keadilan?. Kalau memang salah, ya harus ditahan semua, ” kesal Ismawati.

Dikonfirmasi kepada Kapolsek Pasangkayu, AKP Sujarwo mengatakan, membenarkan penahanan terhadap tersangka atas nama Andika Bin Juma, karena diduga melakukan pengancaman dengan orang dengan menggunakan parang.

“Bahwa suaminya sudah menghunuskan parang miliknya dengan mengancam orang. Itu yang bisa kami buktikan, sehingga kami jadikan tersangka, ” jelas Sujarwo.

Lanjut Sujarwo, soal laporan istrinya Ismawati yang mengaku dianiaya oleh orang. Kata dia, bedasarkan hasil visum dokter bahwa Ismawati tidak ada tanda – tanda kekerasan penganiyaan dibadannya seperti luka robek, lebam, atau bengkak. Sehingga Polisi beskesimpulan tidak bisa menahan orang kalau tidak cukup bukti.

” Bagaimana kami mau tahan orang kalau tidak ada bukti bahwa ibu Ismawati mengaku dianiaya. Kan harus ada bukti visum, yang menerangkan ada sebab akibat seperti luka mamar, robek dan bengkak akibat penganiyaan. Tapi inikan tidak ada hasil bukti visumnya. ” jelas Kapolsek Pasangkayu.

Ditemui di Polda Sulbar, Ismawati bersama iparnya, juga membawa beberapa lembaran kertas. Rupanya lembaran kertas tersebut bukti – bukti laporan dan surat penahanan suaminya yang dikeluarkan oleh Polsek Pasangkayu. Dan surat itu diperlihatkan nomor dan tanggal jelas seperti :

  • Surat perintah pengakapan nomor ; SP Kep / 03 / IV / 2020 / Reskrim
  • Surat perintah penahanan nomor : SP Han / 04 / IV / 2020
  • Surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan dugaan perkara tindak pidana penganiyaan nomor : B / 16 / IV / 2020 / Reskrim.
  • Surat tanda penerimaan laporan dengan nomor : STPL / 16 / IV / 2020 / Sek.Pasangkayu atas nama Ismawati yang mengaku dianaiaya hari Sabtu tanggal 25 April 2020 sekira pukul 03.00 dilokasi Afdelin Fanta PT. Letawa Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Pasangkayu.| Adji

Artikel ini telah dibaca 1685 kali

Baca Lainnya