Pariwisata

Jumat, 14 April 2017 - 04:21 WIB

3 tahun yang lalu

logo

Tiga Menteri Jokowi sambut Kapal Pesiar

Benoa – Tiga menteri Kabinet Kerja yakni Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menpar Arief Yahya dan Menhub Budi Karya Sumadi menjemput cruise perdana di Tanjung Benoa, Bali Kamis (13/4). Didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R Golose, mereka menyambut kedatangan perdana kapal pesiar Pacific Eden yang berada di bawah group Carnival Corporation & PLC dari Australia.

Para pejabat Kabinet Kerja itu langsung ditemui oleh Mr. Sture Myrmell, President of Carnival Australia of Carnival Corporation dan Mr. Mike Drake, Director P&O Australia Carnival Group. Mereka juga disambut oleh kesenian Bali yang tampil khas dengan musik yang dinamis dan para penari yang jelita dengan pakaian adat warna-warna emas.

Mereka menyebut Indonesia punya kekayaan dan keindahan alam yang sulit tertandingi. Indonesia memiliki segalanya, dan sangat berprospek dikembangkan sebagai destinasi cruise. Mereka sangat tertarik untuk bersandar ke Bali, Lombok, Jakarta sampai Komodo Labuan Bajo NTT.

“Sayangnya, bersandar di pelabuhan-pelabuhan Indonesia itu sangat mahal. Termasuk di Benoa Bali,” kata Mike Drake, Director P&O Australia Carnival Group

Dia paparkan data benchmark biaya sandar yang 10-15 persen lebih mahal daripada Singapura, Malaysia dan Hongkong. Tiga menteri itupun bengong dan terbelalak melihat biaya yang mahal itu. “Sementara fasilitas yang disediakan Pelindo III masih sangat minim. Dari soal air bersih, pengolahan sampah, sampai fasilitas di terminal. Strategi harga inilah yang membuat kapal-kapal cruise pindah sandar ke negara tetangga!” kata Luhut bersemangat.

Karena itu, Luhut langsung meminta Menhub Budi Karya untuk memanggil Pelindo III untuk membicarakan soal fee sandar dan lepas sandar di semua pelabuhan di tanah air. “Tolong perbaiki harganya, bechmark dengan Singapura,” kata Luhut.

Menurut Menkomar, masalah port charges yang tinggi, fuel prices, sampah, air, dan lainnya, sudah bertahun-tahun terjadi. Terminalnya juga harus segera diperbaiki. Inilah critical yang harus segera diselesaikan. “Tolong segera di deregulasi, dibuat kebijakan yang cepat untuk mengatasi hal tersebut, buat National Cruise Tourism Strategy,” katanya.

(Rep)

Artikel ini telah dibaca 269 kali

Baca Lainnya