Advertorial

Sekrov Muh Idris Minta Pengoprasian RSUD Sulbar Harus Maksimum

RSUD Prov.Sulbar Harus Berbenah

MAMUJU,pojokcelebes.com |Sekprov Sulbar, Muhammad Idris melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Regional Sulbar, Selasa, (4/12). Kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturrahim dengan jajaran manajemen RSUD Sulbar sekaitan tugas baru sebagai Sekprov Sulbar.

Dalam kunjungan tersebut, Sekprov, Muhammad Idris melihat langsung pelayanan di RSUD sekaligus melihat kondisi ruang perawatan. Usai melakukan kunjungan, Sekprov Muhammad Idris berdialog dengan pihak manajemen RSUD dan mendengarkan langsung permasalahan – permasalahan yang terjadi di RSUD tersebut, untuk dibenahi secara perlahan-lahan. Antara lain yang dikemukakan oleh Plt. Direktur RSUD Regional, drg. Hartini terkait masih kurangnya dokter spesialis yang ada di rumah sakit tersebut . Antara lain, dokter spesialis mata, dokter spesialis rekam medik dan beberapa dokter spesialis lainnya.

“Saat ini, rumah sakit memiliki 17 dokter spesialis, dan sesuai standar rumah sakit saat ini tipe C, kita masih kurang enam dokter spesialis. Sudah ada beberapa dokter yang disekolahkan oleh pemerintah yang anggarannya bersumber dari Kemenkes,”kata Hartini.

Selain permasalahan dokter, pada pertemuan tersebut, juga disampaikan permasalahan obat di rumah sakit yang sering habis, dan terkadang pasien menyampaikan bahwa resep dokter yang diberikan kepada pasien tidak tersedia di rumah sakit.

Usai mendengar sejumlah permasalahan tersebut, Sekprov, Muhammad Idris menyampaikan kedepan ingin melihat bagaimana rumah sakit tersebut seharusnya bisa beroperasi dengan maksimum.

“Maksimum itu artinya pasien segala-galanya. Dari informasi yang disampaikan pihak manajemen rumah sakit dan beberapa dokter tadi, itu kita himpun. Karena ini rumah sakit ini masih baru dinamika dan masalahnya pasti ada, tetapi saya melihat, masalah itu tidak terlalu sulit untuk diatasi,” tandas Idris.

Untuk berbagai permasalahan tersebut, kedepan, Sekprov menyampaikan akan lebih konsisten agar rumah sakit umum tersebut bisa menjadi rumah sakit yang berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).

“Kalau sudah berstatus itu sangat pas. Kalau sekarang , tersandera dengan urusan administrasi seperti yang di keluhkan oleh pihak RS, antara lain permasalahan obat yang terlambat tender . Orang mau meninggal tidak bicara tender, orang sakit berobat tidak bicara soal tender dan ini yang terjadi karena standarnya sama dengan OPD yang lain.Untuk itu, kita harus membuat rumah sakit ini karakteristik yang berbeda dengan OPD yang lainnya,”sebut Idris.

Untuk itu, akan dilihat seperti apa persiapan RSUD Regional menuju tahap BLUD, kalau memang persiapannya sudah mantap, 2019 sudah bisa didorong menuju BLUD, dan Pemprov akan berkomitmen mendorong hal tersebut.
Terkait permasalahan obat yang juga sering mejadi permasalahan di rumah sakit, akan dicarikan jalan keluarnya, dan itu hanya membayar saja.

“Tapi yang paling saya konsen itu adalah mengenai aset yang saat ini jusru tidak terorganisir dengan baik, tidak mendapatkan jaminan keberadaannya dan tentu ini akan ada lanjutan. Saya ingin melihat bagaimana audit aset saya lakukan. Untuk itu saya ingin mencari tahu nanti aset kemana saja dan berada dimana.Kalau sudah dilakukan pembenahan , pasti saya akan meminta untuk mengembalikan aset yang seharusnya menjadi milik organisasi RSUD, karena itu bukan peruntukannya untuk individu tetapi untuk layanan publik,”sebutnya.

|Ian

Please follow and like us:
Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close