Advetorial

Dinilai Sarana Penunjang, Dinkes Parimo Perbaiki Bidang Farmasi

PARIMO, pojokcelebes.com | Sebagai sarana penunjang di bidang Farmasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, kembali melakukan perbaikan manajemen stok obat yang berada di seluruh Puskesmas dan yang berada di gudang penyimpanan karena pada tahun 2013 lalu sempat bermasalah soal manajemennya.

Kadis Kesehatan melalui Kasi Kefarmasian, Devi Artini Uga mengatakan, pengelolaan bidang farmasi diwilayah puskesmas se Kabupaten Parimo itu sesungguhnya tidak terbilang sulit. permasalahannya bahwa di bidang farmasi merupakan sarana penunjang, dan bukan program prioritas.

“Kita disini sebagai program penunjang, sehingga kegiatan di Dinkes itu semuanya kita suport, dan kita tahu semua bahwa kegiatan tersebut memerlukan obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP),” ujarnya.

Hampir 60 persen kegiatan di Puskesmas itu modalnya adalah obat dan BMHP sambung Devi, sehingga di butuhkan bidang kefarmasian yang harus dikelola dengan baik. Diakuinya, di tahun 2013 silam Dinkes pernah ada temuan oleh pihak Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) sebanyak Rp3 Miliar.

“Hasil temuan itu sempat membuat Bupati kaget, dan mempertanyakannya, sehingga itulah yang coba kita perbaiki dari tahun 2013. Alhamdulillah dua tahun ini kita sudah mulai bagus,” tuturnya.

Untuk logistik, menajemen dan dokumentasi nampak sudah mulai membaik. Hal itu terlihat dari laporan opname antara ketersediaan aset dengan pihaknya yang selisihnya tidak begitu berarti yakni, dibawah 2 persen.

“Sesuai PERMENKES Nomor 75 tahun 2017, tentang pengelolaan obat dan BMHP di apotek dan rumah sakit, tercatat ada dua item pekerjaan kefarmasian, pengelolaan obat dan BMHP, dan pelayanan kefarmasian,” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk pengolaan obat dan BMHP tersebut, saat ini sudah mulai membaik, karena telah ditunjang oleh beberapa software yang ada, baik dari kementerian maupun dari pihak provinsi. Sehingga, tidak lagi mengalami permasalahan berarti dalam pengelolaan obat dan BMHP.

Sementara, Kadis Kesehatan dr Revi Tilaar menyatakan secara teori, perencanaan dapat menggunakan metode konsumsi, epidemiologi ataupun kombinasi keduanya yang disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

“Tujuannya yaitu untuk mendapatkan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan, menghindari terjadinya stock out dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional” terang kadis.

Inti dari berhasilnya pengelolaan obat di Rumah sakit maupun di puskesmas adalah fokus pada pelayanan kepada pasien, meskipun sudah dilakukan seleksi, perencanaan dan pengadaan obat sesuai dengan teori yang ada seperti yang tercatat pada pekerjaan dan pelayanan kefarmasian, pengelolaan obat dan BMHP, pungkas dr Revi.

| Pde

Please follow and like us:
Show More
loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker