Hukrim

Senin, 8 Juli 2019 - 20:30 WIB

3 bulan yang lalu

logo

MANGKRAK - Hanya berbentuk rangka bangunan kayu. Rumah adat Lantang Kada Nene di Mambi mangkrak. (Foto : Zulkifli Darwis )

MANGKRAK - Hanya berbentuk rangka bangunan kayu. Rumah adat Lantang Kada Nene di Mambi mangkrak. (Foto : Zulkifli Darwis )

Proyek Pembangunan Rumah Adat Lantang Kada Nene’ di Mambi Mangkrak

MAMASA,pojokcelebes.com | Aroma Korupsi menyengat pada proyek pembangunan rumah adat Lantang Kada Nene di Kelurahan Mambi Kecamatan Mambi Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat.

Dikabarkan, proyek mangkrak pembangunan rumah adat di Mambi, diketahui menelan anggaran 700 juta dengan menggunakan APBD Provinsi tahun 2018. Menjadi sorotan bagi pemangku adat Desa Mambi. Dikabarkan, kondisi bangunan hanya menyisahkan tiang tanpa lantai dan atap bangunan. Mangkarkanya pembangunan dipastikan tiang bangunan terancam rusak lapuk karena tiang kayu sudah ditumbuhi jamur kayu.

Jumal Salah seorang pemangku adat di Kecanatan Mambi, mengaku sangat menyayangkan gagalnya proyek pembangunan rumah adat yang menelan anggaran 700 juta 2 juta itu.

” Kami sangat kecewa dengan Dinas pendidikan provinsi Sulawesi Barat, yang mengadakan rumah adat untuk di Kelurahan Mambi, namun tidak mampu rampungkan. Coba lihat sendiri, rekanan hanya datang awali pekerjaan tapi mereka tidak mampu selesaikan. Ini kan salah!”jelas Jumali.

Jumali menyebutkan, bahwa pekerjaan tersebut dikerjakan bukan Oktober 2018 dengan menghabiskan anggaran kata Jumali, hanya 380 juta dengan bobot pekerjaan. Meskipun, pekerjaan baru mencapai 46 persen, namun proyek tersebut dianggap gagal karena tidak memiliki asas manfaat.

” Kami sangat kecewa dengan kontraktor itu karena terkesan menghilangkan adat setempat. Bahkan sang kontraktor tidak berani datang ke Mambi, karena dia merasa bersalah akibat pekerjaannya tidak rampung,” tegasnya.

Jumali berharap, meminta agar penegak hukum bisa melakukan investigasi terkait proyek ini. Karena selain merugikan tidak memiliki asas manfaat juga merugikan keuangan negara.

” Kami minta agar penegak hukum melakukan investigasi proyek ini. Ada apa sampai bisa begini. Jelas -jelas kan ada anggarannya, kenapa proyeknya tidak rampung,” jelasnya

Terkait mangkraknya proyek pembangunan rumah adat Lantang Kada Nene’. Kepala bidang pariwisata Diknas Provinsi Sulbar, melalui salahseorang anggota kelompok kerja ( Pokja) Farid, membenarkan bahwa proyek pembangunan rumah adat Lantang Kada Nene’ memang tidak rampung. Dia mengaku, tidak rampungnya proyek tersebut diakibatkan karena bencana gempa yang terjadi di wilayah Kabupaten Mamasa.

Kata Farid, dari hasil laporan pengawas proyek bahwa tukang kayu tidak mau lagi kerja karena sering gempa. Sehingga, pengawas mengambil keputusan untuk memutuskan kontrak dan membayar sesuai dengan bobot pekerjaan dengan jumlah kurang lebih 300 juta rupiah dari jumlah total anggaran 700 juta.

” Menurut informasi dari rekanan kami, bahwa saat itu Mamasa diguncang gempa Lima kali setiap hari. Makanya tukang kayu tidak berani bekerja bahkan meninggalkan pekerjaannya. Akibatnya, kami putuskan kontrak dan bayar sesuai dengan bobot pekerjaan,” jelas Farid

|Zul

Artikel ini telah dibaca 119 kali

Baca Lainnya