Hukrim

Minggu, 17 November 2019 - 23:52 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Nampak irigasi ini tidak ada aliran air untuk petani sawah. Irigasi ini hanya terlihat  kering dan ditumbuhi rumput.

Nampak irigasi ini tidak ada aliran air untuk petani sawah. Irigasi ini hanya terlihat kering dan ditumbuhi rumput.

Sudah Habiskan Anggaran Triliunan, Bendungan – Irigasi Tommo Disoal

MAMUJU,pojokcebes | Keberadaan bangunan bendungan untuk irigasi sejak tahun 2008 sampai tahun 2019 yang ada di Desa Campaloga Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju, menuai sorotan masyarakat. Pasalnya, proyek bendungan yang diketahui sudah beberapa kali diangarkan oleh pemerintah dengan menyerap APBN hingga triliunan rupiah, dinilai tidak punya asas manafaat bagi para petani lokal khususnya di Kecamatan Tommo dan sekitaranya.

Berdasrakan penelusuran pojokcelebes.com. Bangunan irigasi yang sudah lama rampung dan sudah tidak memiliki papan proyek. Sangat jelas sekali terlihat, bangunan irigasi untuk mengairi persawahan tidak memberikan hasil yang maksimal, dimana seharusnya jaringan tersebut harus dialiri air sampai kepersawahan para pertani. Namun yang terlihat, sepanjang irigasi hanya ditumbuhi rumput yang layaknya seperti tumbuhan rawa – rawa.

Sejumlah warga yang tak lain adalah petani sawah berhasil dimintai keterangannya. Salahsatunya adalah Sutikno yang mengaku petani asal Dusun Sumberjo Desa Buana Sakti Kecamatan Tommo. Mengaku, sejak adanya bendungan irigasi yang dibangun sejak tahun 2008. Kata dia, hingga saat ini masyarakat petani sawah belum merasakan aliran air irigasi dari Bendungan Tommo. Sutikno mengaku, sebelumnnya keberadaan jaringan irigasi ini para petani sangat senang karena dipastikan tidak akan lagi ada krisis air atau kekeringan bagi parapetani sawah. Namun seiring berjalannya waktu, bangunan yang menalan anggaran triliunan rupiah itu juga tidak kunjung memberikan manfaat bagi para petani. Sutikno mengaku, karena tidak kunjung mengairi persawahan sehingga sejumlah petani tidak sedikit mengalih fungsikan sawahnya menjadi kebun.

“Sangat menyesalkan keberadaan bangunan bendungan dan irigasi itu karena sejak rampung sampai saat ini belum di rasakan azaz manfaatnya oleh petani. Dan sawah saya sekarang terpaksa saya alih fungsikan menjadi kebun, karna air irigasi yang kita harapkan sampai saat ini belum jelas kapang dapat di nikmati.” ujar Sutikno kepada wartawan pojokcelebes. Minggu (17/11)

Irigasi Tommo, ditumbuhi rumput tinggi karena sudah lama tidak ada aliran air untuk sawah.

Senada dengan Tajuddin yang juga Kepala Dusun ( kadus ) Bontoala Desa Campaloga, mengatakan sejak selesainya pekerjaan bendungan dan jaringan irigasi di wilayah Kecamatan Tommo itu, sepengetahuannya hingga proyek itu rampung, kata Tajudin sama sekali tidak tidak pernah di fungsikan atau dirasakan manfaatnya oleh petani.

“kami para petani, sangat prihatin melihat bangunan bendungan dan irigasi yang sudah di anggarkan oleh pemerintah yang jumlahnya sudah memcapai triliunan, tapi azaz manfaatnya belum dapat di nikmati petani sawah.” kata Tajuddin

Dihubungi terpisah, Kades Campaloga Muh. Ridwan, mengatakan semenjak selesainya proyek pembangunan bendungan dan irigasi Tommo, mengakui bahwa tidak pernah dirasakan oleh masyarakat petani. Kata dia, dengan mengahabiskan anggaran triliunan rupiah tapi tidak ada manfaatnya bagi masyarakat, itu artinya itu telah merugikan keuangan negara dan rakyat. Dan kondisi ini, tidak ada yang bertanggung jawab

“saya baru satu tahun menjabat kepala desa tahun 2008 itu sudah dimulai dikerja, itu berarti sudah ada 10 tahun. Harapan saya kepada pemerintah supaya bedungan itu dapat di fungsikan. Itu ketetapan pemerintah pusat dan triliunan anggaran yang masuk di Kecamatan Tommo hanya gara – gara bangun irigasi tapi tidak berfungsi. Dan kalau begini jadinya, siapa yang bertanggung jawab. Kadang masyarakat butuh air, mau ambil di mana, karna salurang cacingnya tidak ada.” kesal Ridwan

Lanjut Kades, saat irigasi baru pertama kali difungsikan dan langsung diuji coba, kata Ridwan, seingatnya irigasi baru setelah di aliri air tiba – tiba jaringan irigasi jebol dan mengalami keruskan. Hal ini yang menjadi tanda tanya masyarakat, kenapa sampai bisa jebol atau rusak?. Lebih lanjut mengatakan, jaringan irigasi ini akan dilalui Lima desa di Kecamatan Tommo. Dan seharunya Lima desa ini sudah bisa merasakan aliran air irigasi hasil bendungan sungai Tommo, tetapi apa yang terjadi petani hanya bisa gigit jari dan sampai saat ini bertani masih mengandalakan curah hujan.

” ini perlu dipertanyakan komposisi campurannya karna kenapa bisa jebol. Dan hingga kini karena saluran irigasi ini akan melalui Lima desa di kecamatan Tommo, seharusnya dari lima desa ini masyarakatnya sudah dapat menikmati jaringan irigasi untuk mengairi persawahan, namun sampai saat ini harus menelan pil pahit karena irigasi yang dilihatnya hanya menjadi pajangan dan tidak bisa dimanfaatkan warga petani. Jadi kalau petani sekarang mau turung sawah harus menunggu musim hujan.” jelas Ridwan

Masih Ridwan menyebutkan, tahun ini 2019 di bulan Januari. Pemerintah pusat kembali mengaggarkan lewat peningkatan jaringan irigasi dengan aggaran 19,9 Miliar. Dan proyek ini masih sementara berjalan. Bersama masyarakat petani tetap berharap agar jaringan air tersebut bisa dirasakan manfaatanya oleh masyarakat petani dan tidak lagi mengandalkan curah hujan.

” Syukur alhamdulillah pemerintah menganggarkan kembali lagi untuk perbaikan jaringan irigasi, dengan jumlah 19,9 Miliar, muda-mudahan adanya perbaikan ini bendungan dapat di fungsikan secepatnya.” pungkas Kades Ridwan.|Zul/Adji

Artikel ini telah dibaca 27 kali

Baca Lainnya