Hukrim

Rabu, 20 November 2019 - 09:33 WIB

3 minggu yang lalu

logo

dampak kekurangan air Akhirnya petani di Tommo hanya memarkir mesin hentraktornya di tengah persawahan.

dampak kekurangan air Akhirnya petani di Tommo hanya memarkir mesin hentraktornya di tengah persawahan.

Proyek Bendungan – Irigasi di Tommo Tidak Beri Manfaat, Petani Melarat

MAMUJU, pojokcelebes | Keberadaan bendungan irigasi di Tommo Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju, yang dinilai tidak memiliki asas manfaat sejumlah petani sawah hanya bisa gigit jari dan kesal. Seperti pernyataan sejumlah sejumlah ketua Kelompok tani ( Koptan ) sawah yang berada di Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju, mulai angkat bicara soal keberadaan irigasi Tommo yang dibangun pemerintah 10 tahun yang lalu.

Salahsatunya komentar dari salah seorang Koptan Sumber Tani Dusun Wonosari Desa Buana Sakti, Sudirman mengakau sebelum ada pembangunan irigasi dibangun, swasembada pangan di Tommo lumayan melimpah, walaupun petani hanya mengandalakn curah hujan, karna air hujan mengalir secara merata kepersawahan. Tapi setelah ada jaringan irigasi yang dibangun oleh pemerintah ada sawah yang tidak terairi air hujan karna terhalang jaringan irigasi.

” Dulu sebelum ada irigasi pembagian air dari tadah curah hujan sangat maksimal bagi petani dan tidak ada sawah yang kekurangan air disebakan jaringan air dari sawah kesawah lancar. Nah, sejak adanya irigasi sebagian sawah tidak lagi bisa dialiri tadah air hujan karena terhambat penyalurannya, ” kata Sudirman

Menurut Sudirman, tidak maksimalnya jaringan irigasi yang dibuat oleh pemrintah diduga salah perencanaan. Misalnya ditemukannya jaringan irigasi, ada yang tinggi dan ada yang rendah yang bisa saja menjadi pemicu banjir dari air tergenang. Seperti yang terjadi disamping SMP Negeri 4, terpaksa saluran irigasinya dijebol paksa oleh warga karena menganggu. Karena jikalau datang musim hujan dimana air yang mengalir dari pemukiman warga, dipastikan air tergenang diareal sekolah karena pembuangan tidak maksimal.

” saya selaku petani bodoh, ada desain-desainnya yang salah, kenapa, karna lantai jaringan ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tinggi sawah dari pada irigasinya bagiaman mau masuk. Coba lihat disekolah itu, kalau hujan pasti tergenang karena tidak ada lagi pembuangan. Karena itu, warga marah dengan terpaksa jaringan air irgasi dijebol paksa warga untuk membuat saluran pembuangan darurat,” ungkap Sudirman

Masih Sudirman, saat ini yang curah hujan belum stabil, sehingga sebagian petani mengaggur. Masih dia, keberadaan irgasi yang dibangun pemerintah benar – benar tidak ada manfaatnya bagi para petani sehingga tidak heran banyak mesin hentraktor yang dikandangkan.

” kami di sini menanam padi satu kali satu tahu, itupun kalau ada hujan turung. Kita lihat mesin hentraktor banyak yang parkir di tengah sawah, kami tidak bisa mengolah sawah kami karna tanahnya kering akibat tidak ada air.” keluh Sudirman

Saluran irigsi Tommo kering airnya entah mengalir kemana.

Senada dengan Ridwan, Ketua Koptan Maju Makmur Dusun Karangsari Desa Buana Sakti Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju. Mengaku bahwa keberadaaan jaringan irigasi selain tidak mengairi sawah petani, juga menjadi keluhan warga sebab pada pembebasan lahan jaringan irigasi, sebenarnya jaringan irigasi melalui Tommo Tiga, tidak tau alalsan apa sehingga tiba – tiba jaringan itu dipindahkan melewati Tommo Dua, sehingga jaringannya ke Tommo Dua baru masuk ke Tommo Tiga.

” kemaring waktu ada pembebasan lahan, jaringan irigasi lewat Tommo Tiga awalnya, tapi entah kenapa tiba-tiba dipindahkan ke Tommo Dua. Jadi air irigasi memutar, ke Tommo Dua dulu baru ke Tommo Tiga. Kalau menurut kami selaku petani yang bodoh alangkah bagusnya kalau jaringan irigasi kalau potong kompas lewat Tommo Tiga. ” ungkapnya

Masih Ridwan, dampak dari irigasi yang tidak berfungsi para petani banyak mengalih fungsikan persawahannya, yang sebelumnnya masih ditanami tanaman jangka pendek sekarang sudah ditanami sawit.

“persawahan sekarang sudah ada dialih fungsikan, awalnya di tanami jagun tapi lama kelamaan sudah ditanami sawit. Dan ada juga kemaring sawah yang di kena program cetak sawah tak luput dari alih fungsi, penanaman kelapa sawit dan sudah berumur lima tahun. Kalau sudah begini siapa yang di salahkan, petani atau pemerintah, karna petani itu tidak mau rugi, katanya pemerintah mau swasembada pangan ko’ jaringan irigasi ngga di fungsikan.” kesal Ridwa.|Zul

Artikel ini telah dibaca 24 kali

Baca Lainnya