Celebes

Rabu, 27 November 2019 - 21:39 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Cegah Tidak Terpapar Radikalisme YPAI Majene Gelar FGD

MAJENE,pojokcelebes | Antispasi ancaman teror dan radikalisme. Yayasan Peduli Alam Indonesia ( YPAI ) menggelar Focus group discussion ( FGD ) yang berlangsung disalahsatu cafe di kota Majene.

Dihadiri sekitar 100 orang, diantaranya Kapolres Majene, AKBP Irwan Banuaji, Pasi Intel Kodim 1401 Majene Kapten Inf. Ardam Nyampa, Kepala Haji dan Umroh Kemenag Majene Hasyim, Wakil Ketua STAI DDI Kabupaten Majene, jurnalis dan Ketua Penyuluh Agama Islam Non PNS Se-Kab. Majene

Kapolres Majene AKBP Irwan Banuaji mengatakan, radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Lanjut dia katakan, paham radikalisme di Indonesia saat ini sudah mulai cukup mempengaruh masyarakat Indonesia meskipun jumlahnya tidak banyak, namun hal demikian harus segera diantisipasi dan dicegah agar paham radikalisme tidak cepat menyebar luas ke seluruh masyarakat dan rakyat Indonesia.

” Paham radikalisme dan terorisme merupakan sesuatu yang dapat merugikan bagi seseorang, bangsa maupun negara terutama di Indonesia. Untuk itu perlu adanya strategi agar seseorang tidak mudah terkena paham radikalisme dan terorisme agar tercegah dari paham-paham yang dapat menyesatkan seseorang,” sebutnya

Senada dengan Syamsuddin selaku Wakil Ketua STAI DDI Kabupaten Majene menjelaskan, kriteria radikal dapat dilihat dalam indikator sepert kelompok yang mempunyai keyakinan ideologi tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang berlaku. Lanjut dia, dalam kegiatannya sering menggunakan aksi-aksi kekerasan, dan bahkan kasar, terhadap kelompok masyarakat lainnya yang dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka. Dan Secara sosio-kultural dan sosio-religius, mereka mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas.

Dia menyebutkan, berdasarkan Survey Setara, Alfara dan BNPT 2018 -2019, 39 % Mahasiswa di 15 Perguruan Tinggi yang terindikasi Terpapar radikalisme. Dengan mengamati pandangan mahasiswa menolak pancasila, perubahan secara memaksa dan kekerasan, dan masalah intoleransi dan ekslusif beragama. Guru 30 % intoleransi dan radikal dan Siswa sudah mulai 2,5 % banyak terpapar radikalisme dan 0,3 % terpapar Terorisme.

” Pemberdayaan kaum muda untuk pencegahan radikalisme dapat dilakukan dengan aktivitas positif, produktif dan membangun kesadaran bernegara, dan kesadaran ideologi yang rahmatan lil alamin. Menanamkan nasionalisme pemuda optimalisasi gerakan pemuda dalam anti radikalisme (ekstrimisme). Kemudian aktif dalam kegiatan OSIS, BEM, ROHIS, LDK, kelompok seniman, santri pesantren, ” tutupnya.|JRN

Artikel ini telah dibaca 283 kali

Baca Lainnya