Nasional

Selasa, 3 Desember 2019 - 09:48 WIB

4 hari yang lalu

logo

Dua sakai yabg dihadirkan oleh JPU dalam perkara dugaan penimbunan BBM di  Karossa.

Dua sakai yabg dihadirkan oleh JPU dalam perkara dugaan penimbunan BBM di Karossa.

Saksi Pengawas SPBU Karossa Sebut, Diduga Ada Fulus Mengalir ke Oknum Polisi

MAMUJU, pojokcelebes | Sidang lanjutan perkara dugaan penimbunan bahan bakar minyak ( BBM) dengan nomor perkara 242/Pid.B/LH/2019/PN Mam, yang mendakwa salah seorang warga Karossa atas nama Ansari Latif alias Brekele. Senin (2/12) kembali dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Kali ini jaksa penuntut umum ( JPU ) Syamsul Alam, SH.MH, menghadirkan Dua orang saksi. Diketahui, saksi yang dihadirkan oleh JPU kali ini yakni atas nama Haji Anca yang tak lain adalah penagwas atau penaggung jawab SPBU Karossa dan salahseorang anggota polisi Polsek Karossa atas nama Nasrun. Terlihat, dua saksi tersebut duduk dikursi pesakaitan dan dicacar sejumlah pertanyaan, baik dari majelis hakim maupun JPU dan kuasa hukum terdakwa.

Giliran saksi Nasrun yang diperiksa. Dan ditanya oleh majelis hakim terkait perkara penimbunan BBM. Saksi Nasrun mengaku, sebelum ada pengamanan barang bukti di rumah terdawa Ansyari Latif saat itu. Awalanya kata Nasrun, adanya sejumlah warga setempat yang meyampaikan ke Polisi terhadap adanya kelangkaan BBM di SPBU Karossa dan beberapa warga menyebut nama terdakwa dalang dari persoalan itu. Atas keluhan warga tersebut. Kata Nasrun, atas perintah Kapolsek Karossa bersama Tujuh orang rekannya polisi langsung ke rumah terdakawa mengamankan barang bukti, seperti drum kosong, mobil milik terdakwa dan 17 jirken yang tidak diketahui jumlah isinya.

” Dan saat ini juga, pak Kapolsek perintahkan kami untuk kerumahnya terdakwa Brekele, untuk mengamankan barang bukti seperti drum dan mobil dan ada juga jirken dengan jumlah 17 buah, tetapi saya tidak tau berapa jumlah isinya jirken itu. Dan saya tidak pernah mengatakan itu penimbunan karena jumlahnya kami temukan hanya 17 jirken saja dan lainnya drum kosong, “sebut Nasrun dihadapan Majelis hakim PN Mamuju.

Saksi Nasrun dalam keterangannya mengaku, saat itu polisi tidak menemukan aktivitas terdakwa Brekele sedang mengisi di SPBU menggunakan kendaraan miliknya. Selain itu juga kata saksi, tidak tau menau bahwa solar yang ditemukan dijeriken terdakwa asalnya solar dari mana. Bahkan kata dia, didepan Mejelis hakim saat mengamankan barang bukti milik terdakwa Brekele, tidak disampaikan atau dilaporkan ke pemilik rumah terdakwa Brekele.

” Saat itu kami tidak temukan Brekele sedang mengisi di SPBU, hanya saja warga yang ribut – ribut terkait adanya kekosongan BBM namun nama Brekele disebut – sebut. Dan saya tidak tau yang mulia, solar yang ditemukan dijirken terdakwa Brekele solar dari mana, itu saya tidak tau yang mulia. Saya ke rumah Brekele atas perintah pak Kapolsek, dan saat ambil barang bukti, memang saya tidak laporkan kepemilik rumah, ” jelasnya yang saat itu dirinya mengaku sedang piket malam.

Berbeda dengan keterangan Haji Anca selaku pengawas dan penaggung jawab SPBU Karossa. Dia menyebutkan, sebelumnnya memang diakui terdakwa mengambil BBM di SPBU miliknya sesuai dengan kesepakatan harga. Dan kata dia, bahwa terdakwa Brekele adalah pengusaha tambang galian C yang memang memiliki alat berat ekscavator yang memang butuh BBM jenis solar. Anca juga mengaku, saat terjadi keributan di SPBU saat itu tidak ditemukan terdakwa Brekele sedang mengisi BBM.

” Makanya saya heran, waktu itu aman ji di SPBU, Kok tiba – tiba ada keributan. Padahal, saat itu tidak ditemukannya terdakwa Brekele ambil solar dengan menggunakan kendaraan miliknya seperti yang dituduhkan, ” jelasnya

Anca mengatakan dalam keterangannya, soal pengambilan solar dengan jumlah yang banyak mengaku, bukan hanya terdakwa Brekele yang pernah membeli dengan jumlah yang banyak
tetapi masih ada orang – orang pembeli menggunakan jirken dengan harga yang disepakati dan ada izin dari petugas keamanan.

” kalau ada izin dari petugas Polisi tentang penyaluran solar pakai jirken, saya pasti jual dengan harga yang telah disepakti 5.500 perliternya. Kalau diperintahkan lagi ditutup ya saya tutup, ” jelasnya yang mengaku menjual solar kepada pemilik jirken menunggu izin dari Polisi

Lanjut Haji Anca menyebutkan, atas kesepakatan yang dibangun keduanya dimana harga solar normalnya di SPBU berjumlah 5. 150 rupiah perliternya. Namun yang disepakati harga dengan terdakwa Brekele termasuk pembeli lain yang menggunakan jirken disepakati 5.500 perliter. Menurut saksi Haji Anca, uang kesepakatan 350 rupiah itu akan dibayarkan kepengamanan kepada oknum Polisi.

“350 rupiah itu kami bagikan ke oknum anggota Polsek Karossa, ” sebut saksi Anca, namun pernyataan itu langsung dipotong keras oleh majelis hakim dengan alasan jawaban saksi melebar.

Dari kesaksian anggota Polsek Karossa Nasrun dihadapan majelis dibantah keras oleh terdakwa Brekele. Dalam keterangan singkat terdakwa Brekele, bahwa tidak mengakuinya ada penimbunan BBM seperti yang didakwakan dirinya. Brekele mengaku, memang polisi menyita 18 jirgen tetapi Empat jirgen berisi oli bekas yang dikuras dari alat berat miliknya. Dihadapan majelis hakim, Brekele juga mengaku tidak ada keributan di SPBU, tetapi tiba – tiba anggota polisi Polsek Karossa dengan membawa senjata laras panjang dan pentungan di SPBU dan menagku diancam.

” na, bagaimana mungkin ada penimbunan BBM sementara bukti yang disita oleh polisi, ada 4 jirgen berisi solar bekas dari alat berat saya dan boleh dicek.” singkat terdakwa Brekele

Sementara kuasa hukum terdakwa, Irwin SH mengaku atas keterangan Dua orang saksi yang dihadirkan oleh JPU mengaku, sangat meringankan kliennya. Dimana kata dia, adanya pengakuan saksi haji Anca, yang menyebutan aktivitas pengisian jirken di SPBU Karossa ada izin dari Polsek setempat. Selain itu kata dia, adanya kesepakatan harga, baik dari pihak SPBU maupun dari pihak pembeli dengan menggunakan jirken.

” sudah jelas adanya aktivitas di SPBU Korossa, berdasarkan dengan keteragan saksi bahwa ada izin dari Kapolsek Karossa tentang pengisian BBM dengan mengunakan jirken. Terkait dengan harga, bahwa bukan kesepakatan antara pengelolah SPBU dengan klien kami. Tetapi harga ini, sudah menjadi kesepakatan bersama dengan kelompok atau orang – orang membeli pakai jirken dengan pemilik SPBU. Dan terkuak harga 350 rupiah itu akan menjadi setoran ke oknum Polisi sebagai pengamanan, ” jelas Irwin

Sidang yang dipimpin Herianto, SH.MH selaku ketua majelis hakim dan dua hakim anggota Andi Adha,SH dan David, SH.MH. Dan sidang kembali digelar di Pengadilan Negeri ( PN ) Mamuju, Senin depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi.|Adji

Artikel ini telah dibaca 546 kali

Baca Lainnya