Hukrim

Rabu, 8 Januari 2020 - 07:04 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Bantuan bibit jagung tertumpuk di salasahtu pengilingan pakan ternak. Bantuna ini terpaksa di alih fungsikan karena sudah ekspair.

Bantuan bibit jagung tertumpuk di salasahtu pengilingan pakan ternak. Bantuna ini terpaksa di alih fungsikan karena sudah ekspair.

Puluhan Ton Bantuan Bibit Jagung di Mateng Ditolak Petani

MAMUJU,pojokcelebes | Aroma korupsi kembali menyengat di Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar). Pasalnya, puluhan ton bantuan pemerintah pusat melalui Dinas Pertanian Provinsi Sulbar berupa bibit jagung varian Bima 20 Uri di Kabupaten Mamuju Tengah ( Mateng ) tahun 2019 ditemukan tidak dimanfaatkan oleh petani di Kabupten Mamuju Tengah ( Mateng ). Namun bantuan tersebut hanya tertumpuk dibeberapa tempat karena kondisinya sudah ekspair atau  telah melewati masa tenggang waktu untuk digunakan oleh petani

Berdasarkan penelusuran pojokceles.com di Desa Pontana Kayyang Kecamatan Budong – Budong Kabupaten Mamuju Tengah. Ditemukan satu nama Gapoktan Pontana Kayyang Indah, dengan menerima bantuan benih jagung berjumlah 13 ton tidak bisa digunakan oleh petani karena sudah ekspair. Agar bibit jagung iu tidak dibuang percuma terpaksa bantun tersebut harus dijual sebagian ke salahsatu pengusaha pembuat pakan ternak.

Seperti pengakuan salahseorang pengusaha penggiling pakan ternak, Sainuddin mengaku keberadaan tumpukan karung jagung digilingannya dibelinya disalahsatu kelompok tani. Bibit jagung yang dibeli tersebut akan dijadikan campuran pakan ternak untuk dijual kembali.

” iya pak, itu bibit jagung bantuan tapi sudah ekspair. Saya tidak tau berapa yang jumlah harga yang dibelikan karena yang membeli istri saya pak. Kami giling sebagai campuran menjadi makanan ayam untuk dijual kembali,” ” katanya

Berbeda dengan pengakuan Jamaluddin yang mengaku masuk dalam anggota Gapoktan Kayu Indah Desa Tasokko Kecamatan Karossa Kabupaten Mamuju Tengah. Kata dia, untuk Gapoktan Kayu Indah Tasokko mendapat jatah jagung bantuan sejumlah 12 ton, namun lagi – lagi bibit jagung tersebut ekspair alias mati label. Sehingga petani di Desa Tasokko tidak mau menanamnya karena beda merek

” Yang kami butuhkan pak, bibit jagung merek Vioner bukan merek Bima Uri. Makanya itu petani tidak mau ambil Bima Uri karena ditau kualitasnya,” kata Jamaluddin

Selain itu kata dia, bantun bibit jagung varian Bima 20 Uri yang belum lama ini tertupuk dikolom rumahnya, diketahui juga mati label alias ekspair. Dan hampir semua anggota Koptan karya Indah menolaknya.

” Bagaimana kami mau ambil kalau bibit jagung itu mati label dan jika dipaksakan ditanam pasti akan merugikan petani sendiri. Jadi tak usahlah selalu membodohi petani,” kesalnya.

Kata dia, upaya ingin meningkatkan produktifitas jagung di Desa Tasokko namun terjanggal dengan bantuan pemrintah yang gagal karena tidak bisa dimanfaatkan oleh petani setempat.

” Padahal, saya bersama dinas pertanian provinsi sudah saya undang kelokasi melihat 20 hektar yang disipakan. Namun ternyata bantuan yang didapat oleh petani tidak sesuai dengan harapan petani,”kesalnya

Tekait hal ini, Media ini mencoba melakukan upaya konfiramasi kepada pejabat pembuat komitemen ( PPK ) Dinas Pertanian Provinsi, atas nama Adnan selalu tidak berada ditempat. Beberapa kali media mendatangi ruangannya namun terlihat kosong. Dan lebih parahnya lagi, beberapa kali dihubungi nomor kontak pribadinya masuk namun tidak diangkat.

|Adji

Artikel ini telah dibaca 1141 kali

Baca Lainnya