Hukrim

Jumat, 20 Maret 2020 - 22:39 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Salahseorang warga tgrasmigrasi Rano Mamasa, terpaksa menempeli plastik dinding rumahnya agar terhindar dari rebesan air hujan. ( foto zul pojokcelebes )

Salahseorang warga tgrasmigrasi Rano Mamasa, terpaksa menempeli plastik dinding rumahnya agar terhindar dari rebesan air hujan. ( foto zul pojokcelebes )

Mau Perbaiki Rumah Tapi Kondisi Terjepit, Warga Transmigrasi Rano Mamasa Ancam Tinggal Lokasi

MAMASA pojokcelebes.com | Kondisi bangunan perumahan transmigrasi UPTD Rano di Desa Passembu Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa, menuai keluhan khususnya bagi warga yang bermukim. Sejumlah permasalahan dikeluhkan seperti kondisi rumah yang sudah tidak layak pakai karena mengalami kerusakan.

Anto warga transmigrasi Rano kepada pojokcelebes.com mengaku, bersama warga lainnya sering membicarakan kondisi tempat tinggal yang ditempati saat ini bersama anggota keluarganya yang saat ini sudah mengalami kerusakan. Dia membeberkan, bahwa kondisi rumah transmigrasi Rano yang sejak tahun 2018 ditempati, sudah tidak layak huni. Dia menyebutkan, kondisi perumahan sudah mengalami rusak berat seperti tiang rumah sudah termakan rayap, kondisi dindin sudah ada lepas dari pakunya karna sudah lapuk, bahkan pondasi rumah sudah ada yang mengalami keretakan. Kata dia, ingin ada inisatif mau perbaiki rumah tapi kondisi keuangan sangat terjepit

“Kami disini warga UPT Rano sering ngumpul – ngumpul membicarakan masalah perumahan yang kami tempati yang kondisinya sudah memprihatinkan. Kami mau perbaiki tapi hasil bumi belum ada Pak, Dua Tahun kedepan begini terus, besar kemungkinan warga akan meninggalkan UPT Rano ini, karna hasil bumi belum ada untuk biaya perbaikan rumah, ” keluh Anton kepada wartawan media ini.

Dia mengaku, karena dinding rumah yang ditinggali sudah dimakan rayap dan air hujan sering masuk saat hujan, terpaksa Anton mengambil inisitif untuk memasang plastik dengan cara menempelkan kedinding.

” Kita lihat sendiri Pak, saya pasangi plastik supaya dinding tidak cepat hancur, terus menahan rembesan air hujan masuk rumah karna dinding sudah retak dan berlobang.” ujarnya

Berbeda yang disampaikan Efrain, juga salahseorang pegawai UPTD Rano yang mengaku sudah ada keluhan warga trasmigrasi dimana bangunan perumahan mulai retak pondasinya, terutama bagian dindin rumah yang sudah lapuk dan rusak karna diduga kayu yang dipakai saat membangun diduga bukan kayu yang berkualitas. Selain itu juga kata dia, beberapa rumah bangunan pekerjaannya diduga masih menggunakan pasir gunung bukan pasir sungai.

” Memang pak di saat pekerjaan bangun perumahan, kualitas bangunan bermacam – macam karna banyak kontraktor yang kerja. Misalnya, perumahan nomor 40 slopnya itu tidak memakai besi de ngan alasan kontraktor tidak ada di RAB, tapi pasangan slopnya tanpa memakai besi.” sebut Efrain yang juga sebagai Kadus Rano

Selain rumah milik warga trasmigrasi yang menjadi sorotan, juga pembangunan jembatan Salu Bumbum tahun 2018, juga diduga memakai pasir gunung. Bahkan dikabarkan proyek ini ada pengembalian.

” Tapi tidak semua bangunan mengalami keretakan seperti itu Pak, tergantung dari rekananya kalau kerjanya sesuai di RAB otomatis kerjanya bagus.” tutup Efrain. |Zul

Artikel ini telah dibaca 1766 kali

Baca Lainnya