Hukrim

Rabu, 30 September 2020 - 20:00 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Kopi di penangakaran di Sumarororong. ( foto istimewa )

Kopi di penangakaran di Sumarororong. ( foto istimewa )

Lama Mengendap, Kasus Sejuta Bibit Kopi Rp 9 Miliar, Kejati Sulbar Mulai Dalami

MAMASA, pojokcelebes.com | Kejati Sulawesi Barat, dikabarkan mulai mendalami kasus pengadaan sejuta bibit kopi tahun 2015 di Kabupaten Mamasa. Kasus korupsi yang lama mengendap itu, akhirnya menjadi perhatian serius oleh Kajati Sulbar, Johny Manurung, untuk segera ditindak lanjuti penanganannya karena sebelumnya sudah memiliki tersangka.   

Dikonfirmasi kepada Kejati Sulawesi Barat, Johny Manurung kepada pojokcelebes.com, menagatakan penanganan kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Provinsi Sulawesi Barat, sebelumnnya sudah ditangani oleh Kejati Sulsel, sebelum terbentuk Kejati Sulbar. Namun karena Provinsi Sulbar sudah memiliki Kejati baru, akhirnya semua penyidikan kasus Korupsi yang sebelumnnya ditangani oleh Kejati Sulsel, sudah dipindahkan penangananya di Kejati Sulbar.   

” Iya kasus itu ada, tenang aja, kita tunggu dalam waktu dekat ini biar saya gelar. Mari bersama kawal pembangunan Sulbar, supaya lebih maju dan sukses,” kata Johny kepada pojokcelebes.com, yang mengaku sudah diekspos. Rabu ( 30/9 ).

Seperti diketahui kasus pengadaan sejuta bibit kopi sebelumnnya sudah memiliki tersangka satu orang. Dikutip dari Liputan6.com. Mantan Kepala Seksi Penerangan Hukum ( Penkum ) Kejati Sulsel, Salahuddin menyebutkan, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan satu juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, tim penyidik Pidsus Kejati Sulsel, sudah menetapkan seorang pejabat Pemerintah Daerah ( Pemda ) Mamasa, Sulawesi Barat ( Sulbar ) inisial N sebagai tersangka.

“inisial N tersebut berperan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen ( PPK ) sudah menjadi tersangka,” terang Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel, Salahuddin, tanggal 30 Maret 2019.

Kegiatan pengadaan 1 juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015 yang dimenangkan oleh PT. Surpin Raya diduga mengadakan bibit yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam dokumen lelang. Dimana dalam dokumen lelang disebutkan pengadaan bibit kopi menggunakan anggaran senilai Rp 9 miliar dan juga disebutkan bahwa bibit kopi unggul harus berasal dari uji laboratorium dengan spesifikasi Somatic Embrio (SE).

Namun dari 1 juta bibit kopi yang didatangkan dari Jember tersebut, terdapat sekitar 500 ribu bibit kopi yang diduga dari hasil stek batang pucuk kopi yang dikemas di dalam plastik dan dikumpulkan di daerah Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Biaya produksi dari bibit labolatorium diketahui berkisar Rp 4.000 sedangkan biaya produksi yang bukan dari laboratorium atau hasil stek tersebut hanya Rp 1.000. Sehingga terjadi selisih harga yang lumayan besar.

Dari hasil penyidikan yang dilakukan penyidik Pidsus Kejati Sulsel, pihak rekanan dalam hal ini PT. Surpin Raya diduga mengambil bibit dari pusat penelitian kopi dan kakao ( PUSLITKOKA ) Jember sebagai penjamin suplai dan bibit. Diduga bibit dari Puslitkoka tersebut merupakan hasil dari stek.|Dji

Artikel ini telah dibaca 2747 kali

#WARTA FOTO
FOTO IRIGASI TOMMO
Baca Lainnya