Celebes

Selasa, 26 Januari 2021 - 23:19 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ket Foto : Ibu dan bayinya masih bertahan di tenda pengungsi apa adanya setelah dilahirkan.

Ket Foto : Ibu dan bayinya masih bertahan di tenda pengungsi apa adanya setelah dilahirkan.

Kisah Ibu Bertahan Hidup di Pengungsian dengan Bayi Umur 4 Hari, Sempat Kajati Sulbar Tawarkan Tinggal di Rujab

Pojokcelebes.com –  Sejumlah kisah dan cerita yang dirasakan masyarakat pada pasca bencana gempa yang mengguncang dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ) dengan kekuatan 6,2 Magnitudo. Mulai saat gempa hingga bertahan hidup di pengungsian.

Seperti biasa, sehari setelah kejadian tanah goyang di tanah Manakarra, tenda – tenda pengungsi muda di jumpai. Seperti di jalur jalan trans Sulawesi atau tepatnya di pintu gerbang masuk kota Mamuju, sepanjang jalan banyak ditemui tenda – tenda pengungsian yang berjejer di perbukitan. Dan ratusan mobil pengungsi baik dari sisi kanan kiri badan jalan terparkir berjejer sepanjang jalan trans. Pilihannya tepat, pengungsi harus mencari daerah ketinggian, karena menganggap aman dari ancaman gelombang Tsunami.

Sama dengan bagian wilayah bagian utara kota Mamuju, tenda – tenda pengungsian juga mudah dijumpai, mulai dari lingkungan Tambi hingga ke bagian bandar udara Tampa Padang yang ada di Kecamatan Kalukku. Pengungsi semua harus mencari tempat yang representatif, hanya satu tujuan terhindar dari bahaya gelombang Tsunami atau menghindari dari reruntuhan bangunan.

Dari tenda – tenda pengungsian, sejumlah kisah terekam di sana, seperti ketakutan kekurangan kebutuhan makanan, adanya kekurangan air bersih, penyakit, bahkan ditemukan adanya pengungsi yang meninggal selama di tenda pengungsian. Bahkan yang lebih menyayat hati, ibu – ibu hamil terkadang harus memaksa melahirkan di tenda pengungsian dengan seadanya dengan alasan apakah kondisi yang memaksa atau sudah dalam keadaan terpaksa atau memang sudah tidak mampu dievakuasi ke rumah sakit terdekat. 

Namun pasangan suami istri ( Pasutri ) Mukhlis dengan Sabriah, harus menikmati persalinannya di tenda pengungsian dengan ditolong seorang petugas medis. Bayi laki – laki yang diberi nama Mukhlis itu berhasil lahir, suara tangisannya menggelegar dalam tenda memecah kesunyian malam, seakan – akan sang bayi mengisyaratkan tidak ingin dilahirkan di tenda terpal. Namun berbeda dengan raut muka kedua orang tua bayi, yang sekali – sekali senyum karena penantian beberapa hari di tenda pengungsian, terbalas dengan kedatangan tamu baru di tengah – tengah keluarga kecil Keduanya. Sabtu tanggal 23 Januari 2021 sekitar pukul 02.00 dini hari.

Keluarga Sabriah tinggal di tenda pengungsian di Desa Tampa Padang Kecamatan Kalukku kabupaten Mamuju. Keluarga ini, berdekatan dengan tenda  pengungsi yang lainnya. Tenda dengan menggunakan sehelai terpal dijadikan tempat berteduh dari terik panas dan hujan. Tentunya, bayi yang baru lahir akan tidak nyaman dari panas dan cuaca dingin. Kondisi ini harus diterima oleh keluarga kecil ini yang mampu hingga sekarang bertahan di tenda yang ukuran 4 kali 3 meter ini, dengan berbagai alasan.

Ditemui di tendanya, Mukhlis bercerita singkat kepada Media ini soal gempa Mamuju yang sudah 11 hari lewat itu. Mukhlis mengaku, dirinya bersama istrinya merupakan korban yang pernah terdampak bencana gempa Tsunami Palu Sulawesi Tengah ( Sulteng ) tahun 2018. Kata dia, saat gempa Palu, Kedua orang anak kembarnya saat bencana gempa tidak bisa terselamatkan. Sehingga dia dan istrinya hingga saat ini masih trauma dengan namanya guncangan gempa.

“ yang namanya gempa mas saya masih trauma, anak saya dua orang meninggal akibat keganasan gempa terjadi di palu tahun 2018. Saya tidak bisa menceritakan lebih detail karena pasti ingat anak kembar saya. Hanya saja yang namanya gempa, kami masih trauma dan hati – hati dan selalu waspada, “ cerita Mukhlis kepada media, yang mengisyaratkan agar warga selalu hati – hati yang namanya gempa bumi.   

Kondisi pasangan Pasutri ini yang masih bertahan di tenda pengungsian. Secara kebetulan ditemukan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat, Johny Manurung, saat sibuk membagikan bantuan kepada sejumlah warga terdampak gempa di masing – masing tenda pengungsian yang masih bertahan di Desa Tampa Padang dekat Bandara Tampa Padang.

Melihat kondisi yang hidup di tenda pengungsian yang sangat tidak nyaman dengan adanya anak bayi yang masih terbilang Seminggu itu. Kajati Sulbar pun menawarkan tumpangan agara Pasutri bersama bayinya bisa tinggal di Rujab Kejati Sulbar. Namun lagi – lagi tawaran Pasutri ditolak oleh keduanya dengan alasan masih trauma tinggal di ruangan rumah karena takut gempa.           

Melihat kondisi sang bayi yang berlindung di bawah selembar terpal sebagai atap tenda dan hanya dibalut selembar sarung tanpa baju dan celana bayi, membuat prihatin Johny Manurung dan menawarkan bayi tersebut dirawat di rumah jabatannya.

” Agar lebih layak dan kondisinya bisa lebih baik, sebaiknya sang bayi kita rawat di rumah jabatan saya,” saran Johny kepada ibu bayi itu.

Namun ayah bayi, Mukhlis, keberatan karena masih takut dan trauma atas kejadian yang mengguncang Mamuju beberapa waktu lalu.

Tidak kehabisan akal agar bayi ini nyaman di tenda pengungsian, Kajati Sulbar pun memanggil dokter khusus anak untuk memantau kondisi kesehatan ibu dan bayinya.

“Tolong ya kepada dokter supaya terus memantau kondisi ibu dan bayinya agar kesehatannya bisa lebih baik ,” pinta Johny.

Perhatian yang diberikan seluruh pejabat Kejati Sulbar, ditambah dengan banyak bantuan yang mengalir ke tenda tersebut. Ayah dan ibu bayi pun merasa terharu dan berterima kasih kepada Kejati Sulbar. ***

Artikel ini telah dibaca 2335 kali

#WARTA FOTO
FOTO IRIGASI TOMMO
Baca Lainnya